Covid 19 : Perlukah Cut Loss??


Bagi Anda yg aktif di dunia trading saham, pasti sering mendengar dan mempraktekkan apa itu Cut Loss. Praktisnya, cut loss adalah sebuah tindakan melepas saham, untuk menghindari kerugian yg jauh lebih besar. Akan tetapi sejatinya, cut loss tidak hanya merupakan strategi yang dilakukan oleh trader saham saja, melainkan juga bisa menjadi bagian strategi internal perusahaan untuk menekan kerugian yang lebih besar. Adakanya perusahaan terpaksa memilih opsi yang lebih merugikan perusahaan dalam jangka pendek, namun lebih menguntungkan dalam jangka panjang, atau minimal mengurangi kerugian yang diderita dalam jangka panjang.

Pertanyaannya, kapan kita harus melakukan cut loss?? Tentu setiap perusahaan memiliki pertimbangan dan momentum sendiri mengenai kapan waktu yang tepat untuk melakukan cut loss, tergantung banyak faktor. Cut loss umumnya menjadi langkah terakhir yang dipilih perusahaan ketika alternatif-alternatif lainnya sudah buntu, sudah “mentog”, tidak ada pilihan lain yg lebih baik lagi. Sebelum memutuskan cut loss, ada baiknya inventarisir dahulu semua kendala / tantangan yang ada, buat matriks tantangan beserta altarnatif solusi yang memungkinkan dilaksanakan. Jika semua alternatif sudah buntu, maka boleh jadi cut loss menjadi langkah penyelamatan terakhir yang perlu dilakukan.

Beberapa hal ini barangkali bisa sedikit membantu untuk merumuskan kapan waktu yang tepat untuk melakukannya.

1.    Bagaimana kondisi financial perusahaan?
Ada istilah populer dalam dunia bisnis, “Cash is King”. Cash adalah Raja. Siapa yang mempunyai kemampuan financial kuat, potensi bisa menguasai pasar & menghajar habis kompetitornya. Mereka bisa memainkan strategy “Predatory Pricing” untuk membunuh pesaingnya, tentu ini hanya berlaku jika aturan mainnya bebas & tidak ada akhlaq dalam berbisnis (statement ini perlu direnungi lagi).

Pada saat omzet turun, sementara biaya operasional relatif tetap, maka pemasukan akan lebih kecil daripada pengeluaran. Jika cash perusahaan kuat, tentu perusahaan dapat bertahan mengelola kerugian sementara waktu, hingga pada saatnya nanti kondisi membaik sehingga perusahaan dapat memupuk keuntungan kembali. Namun, ketika kondisi financial perusahaan tidak bagus, opsi tambahan pendanaan eksternal pun dirasa tidak menarik (karena return tidak sebanding dengan investment yang dilakukan), maka bisa jadi cut loss merupakan alternatif terbaik supaya perusahaan tetap survive dan tidak semakin dalam terpuruk dalam jurang kerugian yang lebih parah lagi.

2.    Bagaimana kemampuan fisik operasional?
Adakalanya cut loss, ditrigger oleh keterbatasan kemampuan fisik operasional, terutama untuk perusahaan yang menghasilkan atau menjual produk berupa barang. Keterbatasan kapasitas gudang dan tidak fleksibelnya unit produksi, seringkali memaksa perusahaan untuk melakukan cut loss demi menjaga supaya kegiatan operasional tidak mengalami stuck. Barangkali ada alternatif lain seperti menyewa gudang dan menonaktifkan unit produksi, namun semua ada konsekuensi biayanya, tergantung bisnis yang dilakukan perusahaan itu sendiri.

3.    Berapa lama situasi krisis ini akan terus terjadi?
Durasi situasi krisis, berimplikasi terhadap kemampuan perusahaan memanage kerugian. Semakin lama kondisi krisis berlangsung, maka dampak yang diderita akan semakin besar. Apabila kerugian yang terjadi selama periode krisis diperkirakan melebihi kemampuan perusahaan dalam memanage kerugian, maka segera take action sebelum perusahaan benar-benar roboh tidak terselamatkan.

4.    Bagaimana proyeksi demand di masa mendatang?
Satu hal yang perlu dipertimbangkan juga adalah proyeksi demand di masa mendatang (paska krisis). Apakah demand ini akan segera normal kembali, atau justru akan hilang seterusnya karena dampak dari keseimbangan bisnis baru yang terjadi (the new normal condition). Apabila demand diperkirakan masih akan kembali tumbuh, maka berakhirnya masa krisis bisa menjadi turning point perubahan dari loss menjadi profit di masa mendatang, bahkan bisa menjadi keuntungan tersendiri bagi perusahaan yang mampu menahan stock. Di saat kompetitor belum memiliki stock, maka perusahaan yang mampu memanage kerugian dan hold stock di saat krisis, bisa memaksimalkan penjualan sehingga bisa recovery & mengambil keuntungan lebih cepat. Akan tetapi jika sebaliknya, demand justru akan hilang, layak mempertimbangkan untuk cut loss sebelum demand benar-benar hilang.

Tersebut beberapa hal yang barangkali bisa membantu memberikan pertimbangan sebelum memutuskan untuk melakukan cut loss. Tentu apa yang disebut di atas, belum meliputi semua hal yang perlu dipertimbangkan, masih banyak hal-hal spesifik lainnya yang layak dipertimbangkan sesuai bisnis perusahaan masing-masing.

Berikutnya, apa saja langkah yang dapat dilakukan untuk cut loss? Mudah-mudahan bisa kita bahas pada seri “ngudarasa” berikutnya.

Comments