Covid 19: Survival Leadership


Beberapa hari yang lalu, saya dan beberapa rekan melakukan perjalanan ke Jambi, untuk urusan pekerjaan. Ada pengalaman menarik saat saya dan rombongan hendak kembali ke Palembang. Sesaat sebelum melakukan perjalanan pulang, kami mampir ke sebuah café kopi, saya lupa nama café nya, tapi lokasinya di seberang persis Swissbel Hotel Jambi.

Konon, café ini  biasanya beroperasi sebagaimana café-café lainnya. Ada barista, ada kue-kue yang menemani, dan tentunya ada pengunjung yang setia berjam-jam duduk dengan aktivitasnya menikmati kopi dan kue. Pada saat krisis covid saat ini, tentu café ini pun terkena imbasnya, sama seperti café kopi atau pun banyak sektor bisnis lainnya. Namun, yang menarik, di saat yang lain banyak tutup, café ini masih tetap operasi dan bisa mempekerjakan karyawanya hanya dengan mereka rubah sedikit model bisnisnya.

Perubahan apa yang mereka lakukan? Pertama, meja resepsi untuk melakukan pesanan mereka pindah di depan ruko yang hampir seluruhnya berupa dinding kaca. Dengan cara ini, maka pengunjung yang melakukan pembelian langsung, tidak perlu masuk ke dalam ruko, tidak perlu menyentuh handle pintu, meja, kursi dan lain-lain sehingga mengurangi potensi penularan covid 19. Kedua, mereka lakukan protocol pemeriksaan temperatur dan penyediaan sarana cuci tangan (portable washtafle lengkap dengan hand soap nya). Hal ini seolah memberikan guarantee kepada pengunjung, bahwa disini kami sangat memperhatikan aspek kesehatan dan perilaku hygiene, jadi jangan ragu untuk membeli produk dari kami. Ketiga, ruangan dalam ruko yang dinding depannya full kaca, mereka jadikan etalase raksasa untuk menampilkan produk-produk dagangannya. Pembeli bisa melihat langsung produk yang dijual, memilih, dan pesan ditempat. Keempat, selain tetap melayani pembelian langsung, mereka pun menyediakan layanan pesan antar. Mereka tulis di depan rukonya gedhe2… Pesan Antar via Nomor 081-XXX-XXX.

Yang kelima, saya pisahkan dari paragraf sebelumnya, karena ini yg luar biasa menurut saya. Kalau pada umumnya penjual yang mengonlinekan dagangannya menggunakan jasa kurir seperti Gojek, Grab, dll… Café ini justru mempekerjakan sebagian karyawannya sebagai tenaga pengiriman. Karyawan yg semula tugasnya sebagai pramusaji, dikonversi fungsinya menjadi tenaga jasa pengiriman. Dengan begitu, mereka masih bisa tetap bekerja, tidak dirumahkan, dan mungkin menurut saya potensi bisa ada tambahan penghasilan dari jasa pengiriman yang menggunakan kendaraan milik mereka sendiri. Ide kreatif dan sebuah tanggung jawab dari owner untuk menjaga kelangsungan hidup karyawannya. Inilah yang saya maksud dengan survival leadership.

Di saat situasi krisis seperti saat ini, kemampuan survival leadership seorang pimpinan benar-benar diuji. Goalnya adalah kelangsungan bisnis perusahaan, dan tetap utuhnya seluruh tim yang terlibat. Pimpinan harus mampu merancang strategi penyelamatan, memahamkan & menyatukan seluruh anggota tim supaya bisa sinergi berada dalam satu jalan & tujuan yang sama. Keterlibatan langsung sosok pimpinan sangat diperlukan untuk mendampingi seluruh anggota tim nya, bersama-sama mengarungi badai & ombak krisis yang ada, hingga semuanya survive, selamat, dalam satu kesatuan tim yang utuh, dengan kapabilitas yang meningkat berkali lipat. Saya teringat kuote dari seorang teman, mantan praktisi pengadaan di pemerintahan, yang saat ini menjadi konsultan di beberapa instansi pemerintahan, BUMN, dan sektor usaha lainnya… kurang lebih nya “Wahai Pimpinan, KPI Anda saat ini bukanlah performance perusahaan semata, KPI Anda saat ini adalah utuhnya seluruh karyawan yang Anda pimpin”. Allaahu Akbar!!


Comments